Kylian Mbappe menutup Piala Dunia 2026 dengan pencapaian individual yang sulit ditandingi. Kapten Prancis tersebut resmi meraih Sepatu Emas adidas setelah mencetak 10 gol dalam delapan pertandingan. Jumlah itu menempatkannya dua gol di atas Lionel Messi yang membawa Argentina mencapai final.
Mbappe memastikan posisi teratas setelah mencetak dua gol pada pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Inggris di Miami Stadium, Sabtu, 18 Juli 2026. Prancis memang kalah dengan skor 4 lawan 6, tetapi dua penyelesaian Mbappe membuat koleksi golnya bertambah dari delapan menjadi 10. Messi tidak mencetak gol ketika Argentina dikalahkan Spanyol dalam final sehari kemudian.
Pencapaian tersebut juga memperpanjang catatan luar biasa Mbappe di panggung Piala Dunia. Setelah mengoleksi empat gol pada 2018 dan delapan gol pada 2022, penyerang berusia 27 tahun itu mencetak 10 gol pada edisi 2026. Total 22 gol membuatnya berada di posisi pertama daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen.
Dua Gol di Miami Mengunci Persaingan Sepatu Emas
Perebutan tempat ketiga sering dianggap tidak sebesar final, tetapi pertandingan melawan Inggris menjadi penentu bagi Mbappe. Ia memasuki laga dengan delapan gol, jumlah yang sama dengan Messi. Mbappe membutuhkan gol agar tidak bergantung pada hasil pertandingan Argentina melawan Spanyol.
Situasi Prancis jauh dari ideal karena Inggris mampu unggul empat gol pada babak pertama. Pasukan Didier Deschamps harus mengejar selisih besar sambil menghadapi serangan Inggris yang tetap berbahaya. Dalam keadaan tersebut, Mbappe masih mampu menemukan ruang dan menyelesaikan dua peluang pada babak kedua.
Gol pertamanya tercipta setelah Michael Olise mengirimkan bola ke area berbahaya. Mbappe menyelesaikan serangan dengan tenang untuk membawa Prancis memperkecil ketertinggalan. Gol itu menyamakan catatan gol sepanjang kariernya di Piala Dunia dengan Messi.
Mbappe kembali mencetak gol tidak lama kemudian. Penyelesaian dari sekitar titik penalti membuatnya mencapai 10 gol selama Piala Dunia 2026 sekaligus mengangkat jumlah gol sepanjang kariernya di turnamen menjadi 22. Prancis tetap kalah 4 lawan 6, tetapi Mbappe keluar dari pertandingan sebagai pemimpin daftar pencetak gol.
Inggris akhirnya meraih peringkat ketiga melalui pertandingan dengan jumlah 10 gol. Bukayo Saka mencetak tiga gol, sedangkan Jude Bellingham menambah satu gol pada penghujung laga. Bellingham mengakhiri turnamen dengan tujuh gol dan memperoleh Sepatu Perunggu.
“Menurut penulis, dua gol di Miami memperlihatkan keteguhan Mbappe. Ia tetap mengejar peluang ketika skor pertandingan tidak lagi menguntungkan Prancis.”
Sepuluh Gol Tercipta dalam Enam Pertandingan
Mbappe tidak mengumpulkan 10 gol melalui satu atau dua pertandingan besar saja. Golnya tersebar dalam enam laga berbeda, mulai dari fase grup hingga perebutan tempat ketiga. Catatan tersebut menunjukkan bahwa ia mampu menjaga ketajaman sepanjang kompetisi yang berlangsung lebih dari satu bulan.
Dua gol dicetak ketika Prancis mengalahkan Senegal dengan skor 3 lawan 1. Ia kemudian kembali menghasilkan dua gol saat menghadapi Irak. Koleksinya bertambah melalui dua gol ke gawang Swedia pada babak 32 besar.
Pada babak 16 besar, Mbappe mencetak gol tunggal kemenangan Prancis atas Paraguay melalui tendangan penalti. Ia kemudian membobol gawang Maroko pada perempat final sebelum menyelesaikan turnamen dengan dua gol melawan Inggris. Rangkaian tersebut membuat Mbappe mencetak gol dalam fase grup, babak 32 besar, babak 16 besar, perempat final, dan perebutan tempat ketiga.
Mbappe hanya tidak menambah koleksinya dalam dua penampilan. Salah satunya terjadi ketika Prancis menghadapi Spanyol pada semifinal. Pertahanan La Roja berhasil mempersempit ruang geraknya sehingga Prancis gagal mencapai final ketiga secara beruntun.
Meski tidak bermain di final, produktivitas Mbappe tetap berada di atas seluruh pemain lain. FIFA mencatat ia menghasilkan 10 gol dan empat assist selama delapan pertandingan. Artinya, Mbappe terlibat langsung dalam 14 gol Prancis sepanjang turnamen.
Senegal Menjadi Korban Pertama Ketajaman Mbappe
Perjalanan Mbappe dimulai ketika Prancis menghadapi Senegal pada pertandingan pertama Grup I di New York New Jersey Stadium. Senegal memberikan perlawanan kuat dan beberapa kali hampir membuka keunggulan pada babak pertama.
Prancis baru menemukan permainan terbaik setelah turun minum. Mbappe memecah kebuntuan pada menit ke 66 setelah menerima umpan Michael Olise. Ia menempatkan bola melewati penjaga gawang Edouard Mendy untuk mencetak gol pertama Prancis dalam turnamen.
Bradley Barcola kemudian menggandakan keunggulan, sebelum Senegal memperkecil skor pada masa tambahan. Mbappe memastikan kemenangan Prancis melalui tendangan jarak jauh pada menit ke 96. Bola meluncur ke sudut atas gawang dan menutup pertandingan dengan skor 3 lawan 1.
Dua gol tersebut membawa Mbappe melewati catatan Just Fontaine sebagai pencetak gol terbanyak Prancis di Piala Dunia. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak tim nasional Prancis setelah melampaui Olivier Giroud.
Penampilan melawan Senegal memperlihatkan variasi penyelesaian yang dimilikinya. Gol pertama berasal dari pergerakan di dalam kotak penalti, sedangkan gol kedua lahir melalui tendangan dari luar kotak. Mbappe tidak harus selalu berlari melewati pemain belakang untuk menghasilkan gol.
Produktivitas Berlanjut Menghadapi Irak dan Swedia
Setelah menaklukkan Senegal, Mbappe melanjutkan ketajamannya ketika Prancis bertemu Irak. Ia kembali mencetak dua gol dan membantu timnya menang dengan skor 3 lawan 0.
Gol pertama dicetak melalui tendangan keras dari luar area penalti. Mbappe menerima bola dalam posisi yang cukup jauh dari gawang, tetapi ruang kecil yang diberikan pemain Irak langsung dimanfaatkan. Bola meluncur cepat dan tidak mampu dihentikan penjaga gawang.
Gol berikutnya tercipta setelah kesalahan pertahanan Irak. Ousmane Dembele memanfaatkan bola yang terlepas, kemudian Mbappe berada di posisi tepat untuk menyelesaikan serangan. Tambahan dua gol membuatnya mengoleksi empat gol hanya dalam dua penampilan.
Mbappe kembali mencetak dua gol ketika Prancis menghadapi Swedia pada babak 32 besar. Pada gol pertama, ia melakukan gerakan tipuan sebelum mengarahkan bola ke sisi jauh gawang. Gol kedua lahir setelah Mbappe menerima umpan terobosan Olise dan menaklukkan penjaga gawang dari sudut sempit.
Enam gol dalam tiga pertandingan membuat Mbappe masuk ke fase gugur sebagai salah satu penyerang paling berbahaya. Kecepatan bukan satu satunya senjata. Ia dapat menyelesaikan peluang dengan kaki kanan, bergerak dari sisi kiri, menunggu di tengah, atau menembak dari luar kotak penalti.
Gol Penalti Mengantar Prancis Melewati Paraguay
Prancis menghadapi pertandingan lebih sulit pada babak 16 besar. Paraguay bertahan dengan rapat dan berusaha mengurangi ruang antara lini tengah dengan pertahanan. Mbappe tidak mendapatkan banyak kesempatan terbuka seperti dalam pertandingan sebelumnya.
Kebuntuan akhirnya pecah setelah Desire Doue dilanggar. Wasit memberikan penalti kepada Prancis setelah pemeriksaan melalui teknologi video. Mbappe maju sebagai eksekutor dan menempatkan bola ke dalam gawang.
Gol tersebut menjadi satu satunya yang tercipta dalam pertandingan. Prancis menang 1 lawan 0 dan melaju ke perempat final. Bagi Mbappe, penalti itu merupakan gol ketujuhnya dalam turnamen dan membuat persaingan dengan Messi semakin ketat.
Kemampuan mencetak gol dalam pertandingan tertutup memperlihatkan pentingnya ketenangan. Penyerang tidak selalu mendapat lima atau enam peluang. Dalam laga fase gugur, satu sentuhan atau satu tendangan penalti dapat menentukan perjalanan sebuah negara.
Mbappe tidak melepaskan tanggung jawab meski tekanan sangat besar. Sebagai kapten sekaligus penendang utama, ia harus menghadapi kemungkinan kegagalan yang dapat menghentikan langkah Prancis.
Maroko Membawa Mbappe Menyamai Koleksi Messi
Prancis kemudian berhadapan dengan Maroko pada perempat final. Pertandingan tersebut menjadi pertemuan yang emosional bagi Mbappe karena ia memiliki hubungan dekat dengan sejumlah pemain Maroko di tingkat klub.
Mbappe sebenarnya memperoleh kesempatan mencetak gol melalui penalti pada babak pertama, tetapi tendangannya gagal menghasilkan gol. Kesalahan tersebut tidak membuatnya kehilangan ketenangan.
Pada babak kedua, Mbappe kembali memperoleh kesempatan di dalam kotak penalti. Ia melepaskan tembakan terukur ke sisi kanan gawang dan membuka keunggulan Prancis. Les Bleus kemudian menang dengan skor 2 lawan 0.
Gol ke gawang Maroko membuat Mbappe mencapai delapan gol. Ia kembali sejajar dengan Messi dalam perebutan Sepatu Emas. Persaingan kemudian berlangsung hingga dua pertandingan terakhir yang melibatkan Prancis dan Argentina.
Pada semifinal, Mbappe gagal mencetak gol ketika Prancis disingkirkan Spanyol. Messi juga tidak menambah gol saat Argentina menaklukkan Inggris, meski ia memberikan dua assist. Sesuai aturan pemisah peringkat, jumlah assist membuat Messi sempat berada di atas Mbappe ketika keduanya memiliki delapan gol.
Messi Menjadi Pesaing Terkuat hingga Pertandingan Terakhir
Lionel Messi menjalani Piala Dunia 2026 dengan produktivitas tinggi pada usia 39 tahun. Ia mencetak delapan gol dan empat assist serta membawa Argentina mencapai final.
Messi memulai turnamen dengan tiga gol ke gawang Aljazair. Ia kemudian mencetak dua gol ketika menghadapi Austria serta menambah gol pada pertandingan berikutnya. Performa tersebut membuatnya memimpin perebutan Sepatu Emas sejak fase grup.
Sebelum pertandingan perebutan tempat ketiga, Messi dan Mbappe sama sama mengoleksi delapan gol dan empat assist. Mbappe kemudian menjauh melalui dua gol ke gawang Inggris. Messi membutuhkan sedikitnya dua gol dalam final untuk menyamai catatan tersebut.
Argentina menghadapi Spanyol dalam final di New York New Jersey Stadium. Penguasaan bola Spanyol membuat Messi jarang memperoleh kesempatan di dekat gawang. Argentina akhirnya kalah 0 lawan 1 setelah Ferran Torres mencetak gol pada babak tambahan.
Messi menutup turnamen dengan delapan gol dan menerima Sepatu Perak. Mbappe unggul dua gol, sedangkan Bellingham berada di urutan ketiga dengan tujuh gol dan satu assist.
Aturan Sepatu Emas Tidak Hanya Menghitung Gol
Sepatu Emas diberikan kepada pemain yang mencetak gol terbanyak selama putaran final Piala Dunia. Gol yang dicetak dalam adu penalti tidak masuk ke dalam perhitungan karena adu penalti digunakan untuk menentukan pemenang pertandingan setelah hasil imbang.
Apabila dua pemain memiliki jumlah gol sama, FIFA menggunakan jumlah assist sebagai pembeda pertama. Pemain dengan assist lebih banyak menempati posisi lebih tinggi.
Jika jumlah gol dan assist tetap sama, pemain dengan menit bermain lebih sedikit ditempatkan di atas. Ketentuan itu memberi keuntungan kepada pemain yang menghasilkan jumlah kontribusi sama dalam waktu lebih singkat.
Aturan tersebut sempat membuat Messi memimpin Mbappe setelah semifinal. Keduanya sama sama memiliki delapan gol, tetapi Messi memperoleh keunggulan melalui jumlah assist. Dua gol Mbappe melawan Inggris membuat aturan pemisah tidak lagi diperlukan.
Penghargaan untuk pencetak gol terbanyak pertama kali diberikan secara resmi pada 1982 dengan nama Golden Shoe. Nama penghargaan berubah menjadi Golden Boot pada 2010. Pemain di peringkat kedua menerima Sepatu Perak, sedangkan posisi ketiga mendapatkan Sepatu Perunggu.
Mbappe Mempertahankan Penghargaan dari Piala Dunia 2022
Sepatu Emas 2026 bukan penghargaan pertama bagi Mbappe. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2022 di Qatar dengan delapan gol.
Tiga dari delapan gol tersebut dicetak dalam final melawan Argentina. Mbappe menjadi pemain kedua setelah Geoff Hurst yang mencetak tiga gol dalam satu pertandingan final Piala Dunia. Meski demikian, Prancis kalah melalui adu penalti setelah pertandingan berakhir dengan skor 3 lawan 3.
Empat tahun kemudian, Mbappe meningkatkan jumlah golnya menjadi 10. Ia tercatat sebagai pemain pertama yang memenangi Sepatu Emas dalam dua edisi Piala Dunia secara berurutan. Prestasi tersebut semakin istimewa karena dilakukan ketika format turnamen berubah menjadi 48 peserta.
Format baru memberi tim yang mencapai tahap akhir kesempatan memainkan delapan pertandingan. Namun, tambahan satu laga tidak otomatis menjamin seorang penyerang menghasilkan banyak gol. Mbappe tetap harus menghadapi lawan dengan karakter berbeda, mulai dari Senegal yang agresif hingga Paraguay yang bertahan rapat.
“Keberhasilan mempertahankan Sepatu Emas menunjukkan bahwa Mbappe bukan penyerang yang hanya bersinar dalam satu turnamen. Ia mampu menjaga standar tinggi selama tiga edisi Piala Dunia.”
Kegagalan Prancis ke Final Tidak Mengurangi Catatan Individual
Prancis datang ke Piala Dunia 2026 dengan sasaran meraih gelar ketiga. Mereka pernah menjadi juara pada 1998 dan 2018, lalu menjadi finalis pada 2006 dan 2022.
Perjalanan Prancis berhenti pada semifinal setelah dikalahkan Spanyol. Hasil tersebut juga mengakhiri peluang Didier Deschamps membawa timnya ke final dalam tiga edisi secara beruntun.
Mbappe sebelumnya menegaskan bahwa pencapaian tim lebih penting daripada penghargaan individual. Seusai pertandingan perebutan tempat ketiga, ia kembali menunjukkan bahwa Sepatu Emas tidak sepenuhnya menghapus kekecewaan karena gagal masuk final.
Meski demikian, penghargaan tetap mencatat kualitas penampilannya. Mbappe mencetak lebih dari sepertiga gol Prancis selama turnamen dan memberikan empat assist. Ia tidak hanya menunggu peluang, tetapi ikut bergerak ke sisi lapangan, membuka ruang, serta menghubungkan serangan.
FIFA juga memberikan Bola Perunggu kepada Mbappe sebagai pemain terbaik ketiga turnamen. Rodri dari Spanyol menerima Bola Emas, sedangkan Messi memperoleh Bola Perak. Dengan demikian, Mbappe pulang membawa dua penghargaan individual dari Piala Dunia 2026.
Daftar Pencetak Gol Teratas Piala Dunia 2026
FIFA menempatkan Mbappe di posisi pertama dengan 10 gol dan empat assist. Messi berada pada urutan kedua melalui delapan gol dan empat assist.
Bellingham menempati posisi ketiga dengan tujuh gol dan satu assist. Erling Haaland juga mencetak tujuh gol, tetapi tidak memiliki assist sehingga berada di bawah Bellingham.
Ousmane Dembele mencetak enam gol dan dua assist. Harry Kane berada setelahnya dengan enam gol dan satu assist. Mikel Oyarzabal menjadi pemain Spanyol paling produktif melalui lima gol dan satu assist.
Ismaila Sarr, Julian Quinones, dan Vinicius Junior masing masing mengakhiri turnamen dengan empat gol serta satu assist. Persaingan tersebut menunjukkan bahwa pencetak gol tidak hanya berasal dari negara yang mencapai semifinal.
Mbappe unggul melalui kemampuan mencetak gol secara berulang. Ia menghasilkan tiga pertandingan dengan dua gol, mencetak gol penentu pada babak 16 besar, serta menemukan kembali ketajamannya pada pertandingan terakhir.
Rekor 22 Gol Mengubah Daftar Teratas Sepanjang Masa
Dua gol melawan Inggris tidak hanya mengamankan Sepatu Emas. Gol tersebut membawa Mbappe menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 22 gol.
Messi menutup perjalanan Piala Dunia 2026 dengan 21 gol. Miroslav Klose, pemegang rekor sebelum turnamen berlangsung, berada di bawah keduanya dengan 16 gol. Ronaldo Nazario mengoleksi 15 gol, sedangkan Gerd Muller mencatatkan 14 gol.
Mbappe mencapai 22 gol hanya dalam tiga edisi. Ia mencetak empat gol saat Prancis menjadi juara pada 2018, delapan gol ketika menjadi finalis pada 2022, serta 10 gol pada 2026.
Catatan itu memperlihatkan peningkatan pada setiap turnamen. Mbappe masih berusia 27 tahun ketika Piala Dunia 2026 selesai, sehingga rekor tersebut dapat bertahan lama atau bahkan bertambah apabila ia kembali tampil pada edisi berikutnya.
Piala Dunia 2026 akhirnya menjadi turnamen ketika Mbappe meraih Sepatu Emas kedua, melewati Messi dalam daftar gol sepanjang masa, dan mencatatkan 14 kontribusi gol. Prancis tidak membawa pulang trofi utama, tetapi kaptennya meninggalkan Amerika Utara sebagai penyerang paling produktif dalam sejarah kompetisi.






